Pages

Lilypie Kids Birthday tickers

Saturday, March 7, 2015

Things change as I enrolled the 2nd term of college. Thanks to technology. Because of you maybe I am gonna failed in some subjects.

No, that's never gonna happen.

Ok time to study, see ya later, people.

Saturday, January 17, 2015

Sekata sajak usia ganjil

Hanya sebatas revolusi
Dengan rasi bintang tertentu
Di langit yang sendu

Percaya atau tidak
Kuperhatikan selalu
Langit malam penuh keluh
Yang dengan tanpa perubahan berarti
Hidup tetap terus jenuh

Tapi aku percaya
Setidaknya, berilah aku kesempatan
Untuk percaya
Jikalau hidup yang kujalani ini
Tidak sejenuh itu
Tanpa kamu
Bahkan untuk sepasang mata yang mengintimidasi itu

Karena menurutku
Ini hanya sebatas revolusi
Yang berikutnya tak begitu berarti setelah satu kali rotasi
Dengan rasi bintang tertentu
Di langit yang selalu sendu

Friday, May 23, 2014

Tak semua awan putih
Tak semua langit biru

Tak semua rintih
Bermakna pilu

Begitupun puisiku;
Tak selalu bermakna
Kadang hanya pengisi ruang hampa

Aku awam memang
Untuk hal ini, sangat

Tapi hanya ini yang bisa kulakukan
Jika..
Ada sekadar rindu

Sekali lagi,
Tak selalu rindu
Berarti kamu

Setidaknya
Untuk hal ini,
Bukan dalam pikirku

Tuesday, May 20, 2014

Hanya keluh dan sesal

Apa yang saya lihat malam ini
Menyadarkan saya
Bahwa
Ternyata
Masih ada aroma
Dan memori yang jelas
Akan kamu



Sayangnya
Sepetik jari berikutnya
Saya sadar juga
Bahwa
Sebenarnya
Kacamata kuda itu
Melekat di parasmu
Dan tak pernah menoleh
Ke samping
Dimana disitu
Aku berpijak.


Friday, May 16, 2014

Saya
Sudah tidak rasakan lagi
Sensasi akan
Tenggelam di lautan rindu,
Dimabuk kasih,
Diguncang rasa.
Keinginan untuk
Larut dalam mata
Yang memabukkan itu,
Terjebak diantara
Naluri dan akal,
Tersesat didalam
Kabar berita
Tentangmu.

Rasa itu,
Ya, yang itu.

Binasa.


Saturday, May 3, 2014

Yang selalu ada
Di setiap sudut bingkai
Walau hanya setungkai
Yang mau tidak mau
Tertangkap pandangan
Walau selalu teralihkan

Awal dari segala itu
Tiada paham hulunya dimana
Entah.
Mengalir saja.
Tanda-tanda tanya itu
Karena laku ambigu
Reaksiku?
Bungkam,
Sembari menilik,
Jauh sedikit, lama lalu jauh banyak.

Penuh terka
Apa sengaja?
Agar apa?
Kemana arah laku itu berlabuh?
Ini, itu?

Mengapa?
Bukan, bukan maksud.
Hanya penasaran
Dan kalaupun aku tahu dimana dermaga itu
Dan sesuai terka-ku
Maka selama itu
Intuisiku benar adanya.

Saturday, April 19, 2014

Satu hari kelana ke selatan
Dari induk mata angin lalu berbelok
Kemana tempat surya memulai kisah

Kisah dimana
Sepasang mata itu saling bertemu
Yang lama menatap, sedetik dua detik
Yang membalas lalu pergi selangkah dua langkah

Seorang diri ucap sepatah dua patah 
Berkelakuan mereka seirama
Tapi
Pecah hati adinda sekeping dua keping

Langkah kaki yang seayun
Tertinggal sejejak dua jejak
Lalu disapu ombak dipecah batu
Seperti hati adinda tadi
Di Samudra Hindia 

Bersamaan itu, harapan hilang selajunya angin laut
Setiup, dua tiup
Sehembus, dua hembus
Pergi jauh sepulau dua pulau

Terjebak masa
Dimana kenangan itu tak lagi berpijak 
Memilih pergi kembali ke peraduan
Dan dalam perjalanannya
Sealun dua alun gamelan hanya obat penenang